Tuesday, April 14, 2009

Asal-Usul Budaya Interupsi

Oleh :

Alvin Attasrif



“Interupsi Yang Mulia..!”, “Interupsi point of Clear !”, “Interupsi point of Order !”, “Interupsi of ini.., interupsi of itu…!”


Interupsi. Satu kata yang sering kita dengar dalam berbagai forum. Entah itu persidangan, rapat kerja, diskusi, dan sebagainya. Interupsi adalah kata yang selalu digunakan untuk menyela, membantah atau memotong pembicaraan orang lain yang disertai penyampaian satu maksud tertentu di dalam forum.
Lebih dari satu dasa warsa belakangan ini (1998-2008, bahkan lebih) Budaya Interupsi begitu populer dan bahkan berkembang pesat. Baik di forum-forum Mahasiswa, Ormas, LSM, Partai Politik, hingga di Parlemen. Bahkan kenyataan yang cukup konyol, bila kita cermati, bahwa kecenderungan orang menggunakan interupsi sebagai satu upaya menggagalkan hal-hal tertentu, untuk kemudian menawarkan satu maksud yang mungkin hanya mengakomodir kepentingan satu kelompok tertentu.
Bayangkan bila situasi ini yang lebih sering terjadi dalam berbagai sidang di parlemen, entah itu sidang komisi ’ini’, komisi ’itu’, bahkan dalam sidang pleno atau paripurna. Sekian banyak fraksi—yang katanya mewakili kepentingan rakyat—saling berbantahan di dalam forum, saling melontarkan interupsi-interupsi yang bersahut-sahutan, hingga akhirnya justru menghambat proses persidangan yang seharusnya men-segera-kan munculnya putusan-putusan penting untuk kemaslahatan ummat. Sementara semakin panjang proses persidsangan, maka akan semakin banyak ’trasnport’ yang diperoleh anggota sidang, dan semakin besar biaya yang harus dikeluarkan oleh negara. Dahsyatnya lagi, biaya yang terkuras untuk proses persidangan mungkin jauh lebih besar ketimbang biaya yang dialokasikan untuk meng-eksekusi putusan-putusan hasil sidangnya.
Menyedihkan memang bila melihat perilaku seperti orang-orang di parlemen itu, mengingat kondisi terkini di REPUBLIK ini, terutama saat kita hampir tidak bisa lagi memastikan, apakah negeri ini masih layak untuk kita sebut sebagai ”TANAH-AIR” tercinta, ataukah negeri ini sudah sedemikian laknat-nya, dimana TANAH dan AIR-nya sudah bercampur menjadi LUMPUR seperti apa yang menimpa Porong Sidoarjo, Jawa Timur yang akhirnya malapetaka itu dinyatakan sebagai ”Bencana Alam”.
Baiklah, itu memang kenyataan pahit yang terjadi dalam realita. Bagaimana kelanjutan perjuangan saudara-saudara kita di sana, sementara ini biarlah berlangsung sesuai prosesnya berjalan.
Kembali ke persoalan ’interupsi’ yang terjadi di balik semua situasi di republik ini, pernahkah kita menyadari sejak kapan sebenarnya ’interupsi’ muncul dalam kehidupan? Bahkan mungkin jutaan orang yang menjadi ’pelaku interupsi’ tidak pernah menyadari asal-usul Budaya Interupsi itu sendiri.

Dijelaskan dalam Kitab JUKLAK (Petunjuk Pelaksanaan) Kehidupan (QS:Al Baqarah—red);
Satu hari di Langit ke-tujuh, dalam Sidang Komisi tentang Penetapan Kandidat Khalifah Kehidupan,—dimana forum berlangsung dengan sangat khidmat—Pimpinan Sidang mengumumkan bahwa dengan berbagai pertimbangan maka MANUSIA adalah yang terpilih sebagai makhluk yang akan ditetapkan sebagai khalifah. Lalu terdengar suara:
”Interupsi Yang Mulia...!”,
”Maaf bila kami mempertanyakan kembali dasar keputusan tersebut...,”,
”Maksud kami begini,”,
”Mengapa Yang Mulia menetapkan golongan manusia sebagai kandidat terpilih?”,
”Karena menurut haemat kami, walaupun manusia adalah calon tunggal...,”,
”Tapi golongan ini sangat suka bertumpah-darah...”,
”Apakah keputusan ini tidak akan menjadi hal yang berisiko di kemudian hari?”,
”Mohon penjelasan Yang Mulia, terimakasih.”.

Kemudian Pimpinan Sidang menjawab seraya memberikan penjelasan:
”Baiklah, kepada seluruh anggota sidang,”,
” SAYA akan menjelaskan, bahwa keputusan ini diambil...”,
”Tentunya telah melewati berbagai pertimbangan.”,
”Ditambah lagi memang golongan ini adalah calon tunggal,”,
”Jadi percayalah bahwa ini adalah yang terbaik, dan SAYA menjamin itu!”,
”Karena SAYA tahu betul kapasitas golongan ini!”.
”Demikian keputusan ini telah ditetapkan, dan selanjutnya...”,
”Akan disampaikan dalam Sidang Paripurna nantinya!”.

Begitulah kurang-lebih jalannya persidangan di tahap awal, yang menghasilkan keputusan dengan mantap tanpa adanya perselisihan dari semua peserta sidang.

Kemudian, dalam sebuah Sidang Paripurna tentang Penunjukan dan Penetapan Peran Khalifah di Dunia, di mana sidang pun berlangsung dengan khidmat. Pimpinan Sidang tengah menetapkan satu keputusan. Namun seketika setelah keputusan ditetapkan dan palu sidang diketuk, tiba-tiba suasana ruang sidang dikejutkan dengan munculnya pekikan lantang. Yang bersuara menyampaikan serangkaian kata-kata, yang kemudian memicu terjadinya perdebatan dalam forum sidang Paripurna tersebut:
”Interupsi, Yang Mulia...!”,
”Mohon keputusan tersebut dipertimbangkan kembali...!”,
”Menurut Saya dasar keputusan itu sangat absurd...!”
”Karena faktanya, kami yang lebih dulu ANDA ciptakan...”,
”bahkan para malaikat inilah yang memungut bahan-bahan penciptaannya...”,
”sementara Saya sendiri, telah ANDA ciptakan dan telah mengabdi kepada ANDA...”,
”ribuan tahun lebih dulu darinya.”,
” ANDA nobatkan Saya sebagai Jenderal Tentara Langit...”,
”kemudian ANDA perintahkan Saya untuk menumpas Kaum Jin yang tak ber-agama di bumi.”,
”Saya meraih kemenangan mutlak !”,
”mereka lari tunggang-langgang menghadapi kegagahan Saya...”,
”hingga akhirnya kini mereka semua bersembunyi...”
”di gunung-gunung, di hutan-hutan, bahkan di dasar-dasar samudera...!”
”Saya lah yang menjadikan bumi sebagai tempat layak untuk dijadikan panggung sandiwara...”,
”dan Saya telah tinggal disana selama 1000 tahun, sebagai wujud pengabdian...”,
”begitu seterusnya, 1000 tahun di tiap lapis langit, sebagaimana titah ANDA, Yang Mulia...”,
”Dan atas prestasi besar itu ANDA jadikan Saya (Izazil, sebelum dilaknat menjadi IBLIS—red) sebagai Imam di sini...”,

Semua terdiam..., lalu argumentasi itu dilanjutkan:
”Sedangkan dia...,”,
”dia baru saja ANDA hidupkan kemarin...!”,
”dan belum pernah berbuat apa-apa...,”,
”masa yang seperti itu ANDA tetapkan sebagai Khalifah...?!”
”Saya ragu akan kemampuannya, Yang Mulia...”,
”dan Saya yakin, bahwa dengan track-record Saya,“,
“Saya berani memberi garansi bahwa Saya jauh lebih mampu untuk mengemban tugas besar itu.”.
“Jadi sekali lagi Saya mohon kepada Yang Mulia untuk mempertimbangkan kembali keputusan itu.”
“Dan secara tegas Saya menyatakan KEBERATAN,”,
”untuk tunduk dan bersujud kepada golongan manusia sebagai tanda penghormatan !”.

Kemudian terdengar Pimpinan Sidang memberi jawaban:
”Hadirin anggota sidang sekalian...!”,
”Keputusan ini sudah dipertimbangkan dengan cermat,”,
”dan sebagai Pimpinan Sidang SAYA sudah memperhitungkan segalanya !”,
”Jadi barang siapa meragukan keputusan ini...,”,
”berarti meragukan kapasitas-KU sebagai Pimpinan Sidang, juga wibawa forum ini.”
”jadi, silahkan tinggalkan forum yang mulia ini!”

Ada sahutan lagi:
”Baiklah, Saya akan Walk-Out dari forum ini...,”,
”dan ketahuilah, bahwa selama golongan manusia menjadi Khalifah,”,
”maka selama itu pula Saya akan menjadi OPOSISI-nya!”

Pimpinan Sidang kembali menjawab:
”Silahkan saja, lakukan apa yang kau mau...!”
”Yang pasti keputusan sidang ini tidak dapat diubah dan telah ditetapkan dalam konsideran!”.

Begitulah kurang-lebih ilustrasi tentang demokratisasi yang mencetuskan Interupsi Pertama yang pernah diwahyukan dalam QS : Al Baqarah. Siapa menyangka atau berapa banyak manusia yang menyadari kalau sebenarnya Budaya Interupsi berasal dari LANGIT.
Berdasarkan contoh di atas, kita dapat mempelajari intereupsi-interupsi yang bagaimana yang kerap kali muncul dalam persidangan di dunia kita sekarang ini. Ironisnya, sekarang ini semakin banyak orang yang merasa bangga bila mampu tampil di tengah forum sebagai orang yang ’vokal’ karena keberaniannya menyampaikan interupsi. Bahkan orang-orang seperti itu berlomba-lomba di berbagai bentuk dan tingkat organisasi. Dari Organisasi Perkaderan, Partai Politik, hingga ke Parlemen. Hebatnya lagi mereka selalu meng-klaim bahwa interupsi-nya adalah amanat orang banyak. Luar Biasa!
Lalu bagaimana kita harus menyikapi hal ini? Bila ternyata Budaya Interupsi yang kita kembangkan adalah bersumber dari Interupsi yang dicontohkan oleh IBLIS. Sementara manusia-manusia bangga, bahkan merasa berjasa bila mampu menggunakan interupsi sebagai alat untuk menggagalkan satu keputusan untuk kemaslahatan, dan semakin mem-budidaya-kan interupsi di berbagai forum.
Mungkinkah mereka yang gemar melontarkan interupsi-interupsi ini adalah utusan-utusan IBLIS dalam kemasan modern? Mungkinkah mereka membuat identitas baru—mungkin mereka menggunakan nama populer, seperti ”THONI”, kependekan dari ”Syai-THONI-rrojiem”—guna mengelabui manusia, karena mereka juga berwujud manusia?
Sayangnya masih terlalu banyak manusia yang tidak mengerti bahwa dirinya tidak mengerti, dan semoga saja kita tidak termasuk dalam golongan itu. Jadi apakah kita harus memandang Budaya Interupsi sekarang ini sebagai BUDAYA IBLIS, dan apakah Budaya Interupsi itu sendiri justru perlu di-INTERUPSI? Semuanya kembali menjadi sebuah pilihan, sebagaimana Sang Oposan dimerdekakan untuk memilih keputusannya sendiri.[]


(Saat menulis artikel ini)
Penulis adalah
- Pekerja Kreatif di sebuah Advertising Agency
- Alumni STMIK Muhammadiyah Jakarta

No comments:

Post a Comment