oleh: Alvin Attasrif Suatu hari, datang seorang kawan yang sudah cukup lama tidak bertemu. Setelah beberapa saat melepas rindu, kamipun membicarakan hal-hal baru, termasuk aktivitas terkini. Pekerjaan, penghasilan, dan hal-hal semacam itu lah. Dalam pembicaraan itu, dia menawarkan kegiatan usaha baru, dengan alasan memperbaiki dan meningkatkan taraf hidup. Sekilas tawarannya terdengar menarik, namun setelah dipertimbangkan, Aku tersadar bahwa itu bukan 'jalan'-ku. Jadi tawaran itu akhirnya kutolak. Dia sempat kecewa, itu jelas terlihat dari reaksinya saat menerima penolakanku. Lalu dia berusaha meyakinkan aku untuk menerima tawarannya, berbagai alasan disampaikannya, bahkan katanya: "ini jalan untuk menjadi orang kaya !". Sesaat aku tertegun, lalu aku teringat dengan pengalaman beberapa tahun lalu (sekitar 2006-2007), dimana saat itu aku memang (awalnya) mengalami masalah finansial yang cukup pelik yang akhirnya dapat kulalui. Setelah sesaat mengingat pengalaman itu, aku melempar senyum untuknya dan menjelaskan beberapa hal dalam cara pandangku. Aku berkata: "Menurutku, ukuran kaya atau tidaknya seseorang bukan dilihat dari berapa besar penghasilannya, atau berapa banyak hartanya". Lalu kulanjutkan, "contohnya begini, jika hari ini kita bertemu dengan 2 (dua) orang, yang 1 pada hari ini memiliki harta/uang sebesar Rp.100.000,-, lalu yang satu lagi hanya memiliki harta/uang sebesar Rp.10.000,-. Bagaimana cara kita mengukur kekayaan 2 orang ini ?", tanyaku padanya. Sebelum dia menjawab aku langsung menyambung, "Bagiku cara untuk mengetahuinya adalah dengan meminta sebagian harta/uangnya itu, sebut saja Rp.5000,-. Siapa diantara mereka yang mampu memberikan/memenuhi permintaan itu, maka dialah yang kaya." Lalu kawanku pun bertanya penasaran, "kenapa bisa begitu?". Aku menjawab: "Ya, andaikata si pemilik uang Rp.100.000,- itu tidak mampu memberikan, maka dia belum menjadi orang kaya, sekalipun uangnya banyak. Tapi jika si pemilik uang Rp.10.000,- mampu memberikan/memenuhi permintaan itu, maka dia adalah orang yang sangat kaya. Karena ternyata dia mampu membagi setengah harta/uang-nya pada hari itu untuk orang lain. Sedangkan si pemilik Rp.100.000,- ternyata tidak/belum mampu memberikan sebagian hartanya untuk orang lain." Kawanku terdiam, lalu aku mempertegas bahwa kesimpulan dari contoh kasus itu adalah, bahwa "Orang Kaya bukanlah Orang yang Berharta Banyak, tapi Orang Kaya adalah Orang yang Mampu Memberi". Seperti itulah kurang-lebih cara pandangku tentang menjadi orang kaya. Dia terdiam dan tampak kesal, aku tertawa kecil dalam hati. Lalu untuk mengalihkan dan mencairkan suasana aku mulai membicarakan hal-hal lain. Alhamdulillah persahabatan kami tidak terganggu karena dialog ini. Aku merasa cukup lega, karena saat kami berpisah pada hari itu dia tampak sudah bisa menerima apa yang aku maksud, dan aku bersyukur kepada Allah SWT Yang Maha Kaya dan Al'Alim Yang Maha Luas karena pernah memberikan pengalaman begitu berharga dalam hidupku, juga atas kesempatan yang diberikan untuk bisa berbagi hikmah dari pengalaman berharga itu. Semoga dangan bisa membagi apa yang kumiliki, aku sudah menjadi orang kaya.... :)
Monday, March 22, 2010
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

No comments:
Post a Comment