Monday, March 22, 2010

Kosong

Saat mengalami ke-kosong-an aktivitas, banyak orang cenderung merasa terganggu dengan keadaan itu. Lalu berusaha mencari-cari kesibukan untuk merubah keadaan yang terasa meyebalkan itu dengan bermacam alasan, seperti ‘mengisi ke-kosong-an waktu’. Banyak ungkapan yang bisa dan biasa diucapkan orang-orang, misal: ‘Otak Kosong’, ‘Kantong Kosong’, ‘Tatapan Kosong’, ‘Perut Kosong’, ‘Rumah Kosong’, dan banyak lagi yang semacam itu—terlepas dari apa yang akan menjadi komentar seorang pakar kelirumologi seperti Jaya Suprana tentang ungkapan-ungkapan tersebut—yang membuat kata “kosong” seakan memiliki konotasi negatif. Namun di sisi lain, keadaan yang kosong itu sebenarnya memberikan manfaat yang luar biasa. Betapa tidak,— terkait dengan ‘perut kosong’—jika perut kita diisi sampai penuh melalui aktivitas makan dan minum maka kita akan merasa tidak nyaman hingga kadang perut kita sendiri yang akan menolak dengan memuntahkan kembali sebagian isinya dan akhirnya akan ada ‘ruang’ kosong didalamnya. Jika kita hendak bermeditasi kita juga akan diajak untuk meng-kosong-kan pikiran kita. Sebuah halaman tabloid, majalah atau apa pun yang menjadi media bacaan, akan terasa membosankan jika di isi terlalu padat, bahkan mungkin orang akan enggan membacanya, tapi jika halaman itu tidak terlalu penuh (diberikan ruang kosong), mata kita akan merasa nyaman. Namun jika melihat kertas kosong kadang kita cenderung ‘tergoda’ untuk menuliskan atau menggambar sesuatu. Sebaliknya, kita juga suka meng-kosong-kan sesuatu yang sebelumnya sudah penuh. Harus diakui bahwa keadaan “kosong” ( kamus=tidak ada apa-apa) itu menjadi penting, karena dengan adanya “kosong” kita jadi memiliki ruang untuk diisi. Sebuah ember (wadah penampung air) yang sudah penuh terisi akan tumpah/luber jika isinya ditambah, karena sudah tak ada ruang untuk diisi (terjadi ke-kosong-an ruang). Pernahkah kita membayangkan apa jadinya jika diri kita seperti ember itu? Bagaimana mungkin kita dapat memahami hal-hal (ilmu) baru, jika kita tidak memiliki ruang kosong untuk ‘menampung’ pemahaman akan hal-hal baru itu. Dan pernahkan terpikirkan bagaimana TUHAN menciptakan keadaan “KOSONG” dengan esensinya, untuk bisa dipahami oleh manusia? Lalu, sebenarnya “kosong” itu ADA atau TIDAK ADA?[]
----------------------------------------------------
Ditulis sebagai akibat ke-kosong-an aktivitas
Jakarta, 15-08-2009 / 02:30 wib
Alvin Attasrif

No comments:

Post a Comment