Peniti. Sebuah benda unik dari logam—sejenis kawat runcing yang dibentuk sedemikian rupa, dengan helm pengunci—yang fungsinya mirip dengan jarum pentul, biasanya digunakan untuk mengaitkan (umumnya) dua belah sisi pakaian/kain yang terpisah, yang konon kita (Indonesia)—menurut berbagai sumber—masih harus mengimpor dari China, karena belum mampu bikin sendiri. Secara zahir, Peniti adalah barang murah, yang dalam kondisi normal (tidak dibutuhkan) cenderung dianggap sepele atau malah tidak berharga.
Namun, satu ketika aku dibuat takjub oleh benda kecil ini, karena rupanya ada beberapa hal yang baru kusadari dari benda bernama “PENITI” ini.
Suatu hari (di tahun 2004) seorang teman pernah bercerita, bahwa ia pernah bertemu seorang perempuan tunawisma—mungkin malah pengemis—yang biasa terlihat mangkal di terminal bus Blok M. Dalam pertemuannya—temanku bercerita—terjadi dialog singkat saat si tunawisma meminta sebatang rokok, lalu kemudian temanku dengan iseng balik bertanya: “ ada titipan buat gue nggak..?!”. Yang ditanya pun menjawab singkat: “ada, peniti !”, seraya tertawa mengekeh.
Saat diceritakan tentang hal ini spontan aku teringat benda kecil yang unik itu, dan entah kenapa aku merasa begitu penasaran, namun sayang, seperti tak dapat petunjuk berarti aku dan temanku akhirnya mencoba untuk tidak memikirkannya, hingga akhirnya kamipun berpisah untuk beberapa tahun.
Hingga satu ketika (di tahun 2006) seorang teman—yang berbeda—di kantorku membuat gambar ilustrasi untuk dijadikan pendukung sebuah artikel yang akan dimuat dalam Koran mingguan yang diterbitkan oleh kantor kami waktu itu. Guess, what..?! Itu gambar sebuah “peniti”! Seketika itu juga aku teringat dengan cerita temanku sebelumnya di tahun 2004 itu. Lalu aku menghentikan pekerjaanku (nge-lay out) sejenak dan segera sibuk membaca artikel terkait gambar ilustrasi itu. Ternyata informasi yang kudapatkan adalah sesuatu yang sangat filosofis. Bahwa “Peniti menusuk bukan untuk menyakiti, namun Peniti menusuk untuk menyatukan”.
Di awal tahun 2007, kantor Koran mingguan tempatku bekerja itu bubar, dan itu adalah cerita lain. Cerita tentang “peniti titipan” dan pesan filosofis dalam “gambar peniti” pun tersimpan rapih. Saat itu aku sudah bekerja di sebuah Advertising Agency kecil di daerah Bendungan Hilir (Benhil) sebagai Art & Creative Director. Lalu salah satu klien yang kami dapat melalui proses pitching tiba-tiba memintaku untuk memperlihatkan beberapa contoh storyboard yang pernah kubuat via e-mail. Akupun mulai membuka-buka file lama dalam kumpulan portfolio-ku.
Sebuah kejutan! Ada satu storyboard—yang pernah kubuat pada tahun 2003—untuk produksi (shooting) sebuah Wide Game, dimana salah satu frame-nya memuat gambar adegan seorang peserta game yang sedang bejalan di atas sebuah “balok titian”. Kata “titian” itupun langsung terserap dan dicerna dalam jaringan syaraf otakku hingga membuatku cukup shock.
Jika Titian = jalan (wadah/medium), maka
Pekerjaan berjalan di atas titian = Meniti, ...itu artinya...
Si Pelaku = PENITI.
Jujur saja, kalau hanya itu tanpa lihat kamus bahasa pun sebenarnya aku sudah tahu sejak lama. Namun kenapa kali ini bunyi kata “peniti” itu begitu mengganggu dikepalaku? Padahal awalnya hanya sebuah cerita dari pengalaman seorang teman, lalu makna filosofis dalam sebuah gambar ilustrasi yang juga dibuat oleh seorang teman yang lain, hingga sebuah ‘identitas’ dalam gambar adegan buatanku sendiri. Apa ini?
Beberapa tahun terakhir aku memang membina hubungan—yang lebih dari sekedar hubungan profesional—dengan beberapa orang/pihak yang jika dipertemukan dalam satu ruang dan waktu akan cenderung tidak cocok, namun memang pernah terjadi, dan saat itu ketidakcocokan mereka sengaja tidak diperlihatkan. Tapi aku dapat merasakannya, dan memang di ruang dan waktu yang terpisah, masing-masing mereka itu pernah bercerita tentang ketidakcocokannya. Tapi apakah hanya untuk hal sesederhana itu ‘pesan’ ini dimunculkan? Aku rasa tidak...!
Jelas aku akan meragukan diriku sendiri, jika maksudnya “ aku adalah peniti yang menusuk bukan untuk menyakiti, namun menusuk untuk menyatukan”. Karena tentu aku akan semakin mempertanyakan, siapa mereka? Kenapa harus dipersatukan? Lalu apa yang terjadi jika tidak disatukan? Dan seterusnya. Jadi aku berpikir ini bukan pesan sederhana untuk lingkup sekecil ini.
Namun berpikir akan hal yang lebih besar ternyata jauh lebih mengerikan. Siapakah sang Peniti (pelaku)? Siapa saja kah yang harus ‘ditusuk’ untuk disatukan? Siapa sebenarnya Peniti yang membawa pesan? Lalu siapa sebenarnya Peniti dalam pesan itu? Sesaat sempat terlintas dibenakku, mungkinkah ini sebuah pesan tentang negeri ini? “ Bahwa harus ada seseorang yang ‘berlaku’ (menjadi pelaku=Peniti) sebagai Peniti yang menyatukan semua pihak?”. Who knows…?
Satu hal yang membuatku merasakan hal yang khusus adalah bahwa ternyata Bahasa Indonesia itu luar biasa. Dalam bahasa lain, Seorang Pelaku dan Benda Pengait dari bahan sejenis kawat yang menusuk untuk menyatukan, dinamakan dengan kata yang berbeda dan jelas memiliki arti yang beda pula. Namun dalam Bahasa Indonesia, keduanya dibunyikan sebagai PENITI.[]
--------------------------
Alvin Attasrif
baru sempat ditulis : 9-1-10


No comments:
Post a Comment