Adzan Maghrib berkumandang, waktuku untuk berbuka puasa tiba walau hanya berbuka dengan menu yang sangat ‘minimalis’. "Allahumma laka shumtu wa bika amantu wa 'alaa rizqika afthartu birahmatika ya arhamarrohimin", akupun berbuka dengan segelas kopi instan dan beberapa potong wafer. Alhamdulillah, tunai sudah satu dari sekian kewajiban besar hari ini. Sore itu—sebenarnya sudah beberapa hari—aku berada di sebuah warnet (warung internet) milik temanku di daerah Matraman Jakarta Timur, hanya ada aku dan 1 orang petugasnya yang memilih berbuka di bagian depan sambil mondar-mandir, sementara aku duduk sendiri di ruang belakang.
Selepas maghrib kopi yang masih hangat itu belum juga habis karena baru kusruput sedikit, aku memang tidak pernah buru-buru kalau minum kopi. Kunyalakan sebatang rokok, kuhisap begitu dalam dan perlahan kuhembuskan. Oh..., nikmatnya suasana ini, entah sudah berapa lama aku tak pernah menikmati kesendirian seperti ini. Sesaat mataku terpejam seperti menerawang dan pikiranku meluncur terbang bebas dengan begitu cepat hingga jiwaku melayang di sebuah tempat yang luas tak bertepi, lalu tanpa bisa kukendalikan tiba-tiba bathinku berucap: "Oh..., TUHAN, bolehkah aku menemui-MU...?".
Mendadak jiwaku yang sedang melayang seperti disedot dengan keras untuk kembali masuk kedalam ragaku, dan matakupun terbuka seketika seolah dikejutkan oleh sesuatu, dan ternyata memang benar begitu.
Bersamaku kini telah hadir sosok luar biasa indah yang tak bisa kugambarkan dengan kata, dan DIA duduk—dengan sangat berwibawa—di atas lantai yang sama dengan tempatku bersila. Aku membisu dan tak kuasa bergerak untuk sesaat, namun dapat kurasakan adanya energi yang mengalir memenuhi ruangan kecil itu dengan kehangatan lalu dengan sendirinya hatiku menjawab kalimat salam yang tak terdengar oleh telingaku. Lalu DIA bicara dengan suara datar dan sangat lembut yang setiap katanya menggetarkan jantungku: ”kau yang mengundang dan ingin bertemu AKU, AKU sudah disini....”.
Spontan emosiku berkecamuk, antara kegembiraan yang amat sangat dan rasa malu karena tak bisa memberi penyambutan layak kurasakan sekaligus. Lalu seperti seorang pembantu yang kikuk karena berjumpa secara tiba-tiba dengan majikannya, aku celingukan dan bergerak tak keruan karena bermaksud ingin menghidangkan sesuatu. Namun semua maksud itu begitu jelas terbaca oleh-NYA. DIA-pun kembali bicara: "tak usah repot-repot, Kita minum kopi itu saja...", DIA menunjuk ke arah gelas berisi kopi instan yang sedang kuminum, aku menoleh memandang gelas yang terbuat dari bahan plastik tahan panas itu, DIA menegaskan: "...ya Kita minum berdua, itu sudah cukup...!")*.
Kedua tanganku dengan gemetar meraih gelas itu, dan entah kenapa gelas plastik itu jadi terasa jauh lebih berat dari sebelumnya. Perlahan aku menggeser letaknya hingga berada di antara Kami berdua. Dengan gugup aku memberanikan diri bicara: "m..ma’afkan saya kalau...", DIA memotong: "kenapa kau ini...? biasanya kalau sedang berkumpul dengan teman-temanmu dan sibuk membicarakan tentang AKU, kau selalu bicara dengan gaya slengean dan ngocol..., tak perlu tegang lah, santai saja....”, kata-NYA, "memangnya siapa yang memberimu kemampuan berbahasa, jika bukan AKU...?", lanjut-NYA.
Wajahku bersemu merah karena tersipu malu dan ekspresi itu jelas tak mampu kusembunyikan, kucoba mencairkan suasana, "Mm..., iya nih ! Koq aku jadi begini ya..., KAU memang selalu berhasil membuatku salah tingkah.", kataku. DIA tersenyum, "hohh...DIA nggak marah, syukurlah...", aku membathin. "Kenapa AKU harus marah...?", DIA bertanya dengan nada gurau. Tiba-tiba aku tersadar, lalu sambil tertawa—karena ketololanku—aku berkata: "hahaha...iya, ya. KAU kan Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui, sudah berduaan begini ngapain juga aku ngomong dalam hati..?!", "Memang, dihadapan-MU aku betul-betul jadi orang bodoh..., hahaha...", lanjutku. "Ya, dan orang bodoh yang masih bisa tertawa bagai tak tahu malu seperti ini dihadapan-KU cuma kau...!", DIA menimpali. Kami tertawa sejenak dan suasanapun menjadi lebih santai, tanpa sadar rokokku sudah terbakar habis dalam asbak.
Sebelum melanjutkan bicara Kami sama-sama minum kopi instan yang sudah tak begitu hangat dari gelas plastik itu. Kurasakan setiap tetesnya yang mengalir membelai lidahku dengan sensasi rasa yang jauh lebih nikmat dari sebelumnya. Saat cairan itu melewati kerongkonganku dapat kurasakan tubuhku yang tadinya sempat layu karena malu kembali dialiri tenaga, dan rasanya kini aku dapat duduk lebih tegak. Namun saat aku sedang dilanda kenikmatan luar biasa itu tiba-tiba DIA bertanya dan hampir membuatku tersedak. "Gimana puasamu kali ini...?", tanya-NYA.
Kutenangkan diriku, lalu menjawab dan balik bertanya: "KAU kan pasti sudah TAHU yang sebenarnya, apa aku masih harus menjawab pertanyaan itu...?". "Ya! AKU ingin mendengar suaramu, dan apakah kau mampu menjawabnya dengan jujur dihadapan-KU...", kata-NYA. Sesak rasanya dada ini hingga aku harus menghela nafas cukup panjang, lalu aku menjawab: "ya..., jika yang KAU maksud adalah kualitasnya maka aku tak akan pernah sanggup menjawabnya. Tapi jika yang KAU maksud adalah bagaimana aku menjalaninya, harus kuakui bahwa puasaku kali ini terasa jauh lebih berat dari yang pernah kujalani sebelumnya....", kalimatku tertahan dan DIA tahu kalau jawabanku belum selesai, tanganku meraih korek-gas dan bungkus rokok yang isinya tinggal beberapa batang, lalu mengambilnya sebatang untuk kunyalakan. Saat sadar DIA memperhatikan aku berniat membatalkannya, namun ternyata DIA memberi isyarat tanda tak keberatan dan membiarkan karena itu 'pilihanku' sendiri.
Kunyalakan rokok itu dan menghisapnya beberapa kali, lalu meneruskan kalimatku tadi, "...ya, terasa jauh lebih berat, karena kali ini aku baru benar-benar menyadari betapa sulitnya mengatasi diriku sendiri, ditambah lagi kesadaran ini juga mengingatkan aku tentang puasa-puasaku yang lalu dan rasanya aku belum menjalankannya dengan sungguh-sungguh...". Kembali kusruput kopi yang mulai dingin dan menghisap rokokku lalu asapnya kuhembuskan perlahan dan melanjutkan pembicaraan, "...belum lagi jika menghadapi keadaan nyata saat ini, dengan urusan duniawi yang sejak beberapa bulan lalu memang membuat emosiku seringkali bergejolak. Yah..., begitulah, dan karena semua itu aku sempat merasa takut. Takut jika ternyata aku telah lalai dalam menjaga kesucian aqal-ku, bahkan saat ini pun aku merasa takut kalau KAU bosan melihat dan mendengarkan aku....".
DIA memutus kalimatku: "hahaha..., dasar orang bodoh, kalau AKU sampai bosan Melihat dan Mendengar, maka jangan panggil AKU sebagai TUHAN, lagian seandainya saja AKU menyatakan pensiun, memangnya ada yang sanggup menggantikan posisi-KU...?!", kata-NYA sambil tertawa lembut. Kata-kata barusan jelas tak mungkin kubantah, mendengarnya membuatku semakin merasa bodoh dan hanya bisa nyengir. DIA meneruskan, "jadi begitu ya, penjelasanmu yang menurutmu sudah jujur..?! Sebenarnya kau sudah tahu, selama kau masih mangingat AKU dan tetap meminta kepada-KU dan selama itu semua masih sesuai dengan cara yang AKU inginkan, maka AKU akan menjagamu dari hal-hal yang kau risaukan itu...", aku hanya mendengarkan saja, "...itulah..., sadar atau tidak kadang kau masih suka menjebak dirimu sendiri, dan kau tahu kalau itu goblok, padahal kau sudah mengerti tentang ’DUIT’ dan bagian mana yang lebih berat diantaranya, resapi dan amalkan lebih dalam lagi ! Apalagi kau paham bahwa AKU tidak akan mengujimu jika memang kau tak punya kemampuan untuk itu...", lanjut-NYA.
Aku mengganti posisi lipatan kakiku dan tetap bersila, lalu merenungi sebentar saat DIA mengingatkan aku tentang ’DUIT’ (Do’a-Usaha-Istiqomah-Tawa
Selepas maghrib kopi yang masih hangat itu belum juga habis karena baru kusruput sedikit, aku memang tidak pernah buru-buru kalau minum kopi. Kunyalakan sebatang rokok, kuhisap begitu dalam dan perlahan kuhembuskan. Oh..., nikmatnya suasana ini, entah sudah berapa lama aku tak pernah menikmati kesendirian seperti ini. Sesaat mataku terpejam seperti menerawang dan pikiranku meluncur terbang bebas dengan begitu cepat hingga jiwaku melayang di sebuah tempat yang luas tak bertepi, lalu tanpa bisa kukendalikan tiba-tiba bathinku berucap: "Oh..., TUHAN, bolehkah aku menemui-MU...?".
Mendadak jiwaku yang sedang melayang seperti disedot dengan keras untuk kembali masuk kedalam ragaku, dan matakupun terbuka seketika seolah dikejutkan oleh sesuatu, dan ternyata memang benar begitu.
Bersamaku kini telah hadir sosok luar biasa indah yang tak bisa kugambarkan dengan kata, dan DIA duduk—dengan sangat berwibawa—di atas lantai yang sama dengan tempatku bersila. Aku membisu dan tak kuasa bergerak untuk sesaat, namun dapat kurasakan adanya energi yang mengalir memenuhi ruangan kecil itu dengan kehangatan lalu dengan sendirinya hatiku menjawab kalimat salam yang tak terdengar oleh telingaku. Lalu DIA bicara dengan suara datar dan sangat lembut yang setiap katanya menggetarkan jantungku: ”kau yang mengundang dan ingin bertemu AKU, AKU sudah disini....”.
Spontan emosiku berkecamuk, antara kegembiraan yang amat sangat dan rasa malu karena tak bisa memberi penyambutan layak kurasakan sekaligus. Lalu seperti seorang pembantu yang kikuk karena berjumpa secara tiba-tiba dengan majikannya, aku celingukan dan bergerak tak keruan karena bermaksud ingin menghidangkan sesuatu. Namun semua maksud itu begitu jelas terbaca oleh-NYA. DIA-pun kembali bicara: "tak usah repot-repot, Kita minum kopi itu saja...", DIA menunjuk ke arah gelas berisi kopi instan yang sedang kuminum, aku menoleh memandang gelas yang terbuat dari bahan plastik tahan panas itu, DIA menegaskan: "...ya Kita minum berdua, itu sudah cukup...!")*.
Kedua tanganku dengan gemetar meraih gelas itu, dan entah kenapa gelas plastik itu jadi terasa jauh lebih berat dari sebelumnya. Perlahan aku menggeser letaknya hingga berada di antara Kami berdua. Dengan gugup aku memberanikan diri bicara: "m..ma’afkan saya kalau...", DIA memotong: "kenapa kau ini...? biasanya kalau sedang berkumpul dengan teman-temanmu dan sibuk membicarakan tentang AKU, kau selalu bicara dengan gaya slengean dan ngocol..., tak perlu tegang lah, santai saja....”, kata-NYA, "memangnya siapa yang memberimu kemampuan berbahasa, jika bukan AKU...?", lanjut-NYA.
Wajahku bersemu merah karena tersipu malu dan ekspresi itu jelas tak mampu kusembunyikan, kucoba mencairkan suasana, "Mm..., iya nih ! Koq aku jadi begini ya..., KAU memang selalu berhasil membuatku salah tingkah.", kataku. DIA tersenyum, "hohh...DIA nggak marah, syukurlah...", aku membathin. "Kenapa AKU harus marah...?", DIA bertanya dengan nada gurau. Tiba-tiba aku tersadar, lalu sambil tertawa—karena ketololanku—aku berkata: "hahaha...iya, ya. KAU kan Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui, sudah berduaan begini ngapain juga aku ngomong dalam hati..?!", "Memang, dihadapan-MU aku betul-betul jadi orang bodoh..., hahaha...", lanjutku. "Ya, dan orang bodoh yang masih bisa tertawa bagai tak tahu malu seperti ini dihadapan-KU cuma kau...!", DIA menimpali. Kami tertawa sejenak dan suasanapun menjadi lebih santai, tanpa sadar rokokku sudah terbakar habis dalam asbak.
Sebelum melanjutkan bicara Kami sama-sama minum kopi instan yang sudah tak begitu hangat dari gelas plastik itu. Kurasakan setiap tetesnya yang mengalir membelai lidahku dengan sensasi rasa yang jauh lebih nikmat dari sebelumnya. Saat cairan itu melewati kerongkonganku dapat kurasakan tubuhku yang tadinya sempat layu karena malu kembali dialiri tenaga, dan rasanya kini aku dapat duduk lebih tegak. Namun saat aku sedang dilanda kenikmatan luar biasa itu tiba-tiba DIA bertanya dan hampir membuatku tersedak. "Gimana puasamu kali ini...?", tanya-NYA.
Kutenangkan diriku, lalu menjawab dan balik bertanya: "KAU kan pasti sudah TAHU yang sebenarnya, apa aku masih harus menjawab pertanyaan itu...?". "Ya! AKU ingin mendengar suaramu, dan apakah kau mampu menjawabnya dengan jujur dihadapan-KU...", kata-NYA. Sesak rasanya dada ini hingga aku harus menghela nafas cukup panjang, lalu aku menjawab: "ya..., jika yang KAU maksud adalah kualitasnya maka aku tak akan pernah sanggup menjawabnya. Tapi jika yang KAU maksud adalah bagaimana aku menjalaninya, harus kuakui bahwa puasaku kali ini terasa jauh lebih berat dari yang pernah kujalani sebelumnya....", kalimatku tertahan dan DIA tahu kalau jawabanku belum selesai, tanganku meraih korek-gas dan bungkus rokok yang isinya tinggal beberapa batang, lalu mengambilnya sebatang untuk kunyalakan. Saat sadar DIA memperhatikan aku berniat membatalkannya, namun ternyata DIA memberi isyarat tanda tak keberatan dan membiarkan karena itu 'pilihanku' sendiri.
Kunyalakan rokok itu dan menghisapnya beberapa kali, lalu meneruskan kalimatku tadi, "...ya, terasa jauh lebih berat, karena kali ini aku baru benar-benar menyadari betapa sulitnya mengatasi diriku sendiri, ditambah lagi kesadaran ini juga mengingatkan aku tentang puasa-puasaku yang lalu dan rasanya aku belum menjalankannya dengan sungguh-sungguh...". Kembali kusruput kopi yang mulai dingin dan menghisap rokokku lalu asapnya kuhembuskan perlahan dan melanjutkan pembicaraan, "...belum lagi jika menghadapi keadaan nyata saat ini, dengan urusan duniawi yang sejak beberapa bulan lalu memang membuat emosiku seringkali bergejolak. Yah..., begitulah, dan karena semua itu aku sempat merasa takut. Takut jika ternyata aku telah lalai dalam menjaga kesucian aqal-ku, bahkan saat ini pun aku merasa takut kalau KAU bosan melihat dan mendengarkan aku....".
DIA memutus kalimatku: "hahaha..., dasar orang bodoh, kalau AKU sampai bosan Melihat dan Mendengar, maka jangan panggil AKU sebagai TUHAN, lagian seandainya saja AKU menyatakan pensiun, memangnya ada yang sanggup menggantikan posisi-KU...?!", kata-NYA sambil tertawa lembut. Kata-kata barusan jelas tak mungkin kubantah, mendengarnya membuatku semakin merasa bodoh dan hanya bisa nyengir. DIA meneruskan, "jadi begitu ya, penjelasanmu yang menurutmu sudah jujur..?! Sebenarnya kau sudah tahu, selama kau masih mangingat AKU dan tetap meminta kepada-KU dan selama itu semua masih sesuai dengan cara yang AKU inginkan, maka AKU akan menjagamu dari hal-hal yang kau risaukan itu...", aku hanya mendengarkan saja, "...itulah..., sadar atau tidak kadang kau masih suka menjebak dirimu sendiri, dan kau tahu kalau itu goblok, padahal kau sudah mengerti tentang ’DUIT’ dan bagian mana yang lebih berat diantaranya, resapi dan amalkan lebih dalam lagi ! Apalagi kau paham bahwa AKU tidak akan mengujimu jika memang kau tak punya kemampuan untuk itu...", lanjut-NYA.
Aku mengganti posisi lipatan kakiku dan tetap bersila, lalu merenungi sebentar saat DIA mengingatkan aku tentang ’DUIT’ (Do’a-Usaha-Istiqomah-Tawa
DIA kembali bicara: "kopinya sudah dingin dan hanya tinggal seteguk lagi, habiskan untukmu saja !")**, lalu seperti menelanjangi pikiranku DIA melanjutkan, "jangan minta terlalu banyak, AKU tak akan memberikan apapun yang belum sanggup kau terima. Kembalilah keposisimu, sebentar lagi tempat ini didatangi orang-orang, AKU tak mau membuat mereka cemburu karena melihatmu begini...".
Tiba-tiba suasana ruangan itu kembali seperti semula, aku merasakan hening meski hanya sebentar, karena khusyu’ku terganggu dengan suara seorang customer di ruang depan yang meminta bantuan. Sambil menjawab salam—yang tetap tak terdengar di telinga—dalam hati, aku menenggak habis kopi dingin itu lalu beranjak dan melangkah ke ruang depan membantu si petugas warnet yang tampak kwalahan, karena si customer butuh pelayanan khusus. Alhamdulillah akhirnya kehadiranku bisa membantunya. Sambil membantu melayaninya dalam hati aku berucap: "TUHAN, terimakasih KAU mau mampir untuk minum kopi bersamaku, dan terimakasih KAU telah ’kirim’ dia ke sini, hingga aku sadar bahwa aku masih bermanfaat.".[]
--------------------------
)*
TUHAN tidak makan dan minum. TUHAN hadirkan nikmat dalam segelas kopi itu, lalu pada saat aku meminumnya dan mampu menikmatinya secara benar, pada saat itu pula muncul rasa syukur untuk TUHAN. Kopinya untukku, rasa syukurku untuk TUHAN, untuk sesaat keduanya ada dalam sebuah gelas dari bahan plastik tahan-panas.
)**
Saat itu (aku berharap), TUHAN sudah menerima rasa syukurku, tinggal aku yang harus menghabiskan kopi dingin, agar tidak mubazir.
----------------------------------------------------
02/09/09
Alvin Attasrif

No comments:
Post a Comment